BRIN: Riset dan Inovasi Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Nasional

BRIN: Riset dan Inovasi Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Nusantaratv.com - 30 April 2026

Kepala BRIN Arif Satria (kiri) dalam konferensi pers bersama media di Jakarta pada Selasa (28/4/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari (Antara)
Kepala BRIN Arif Satria (kiri) dalam konferensi pers bersama media di Jakarta pada Selasa (28/4/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari (Antara)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menegaskan bahwa penguatan ekosistem riset dan inovasi menjadi faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 30 April 2026, Arif menyampaikan bahwa kemajuan ekonomi suatu negara sangat dipengaruhi oleh kekuatan riset, inovasi, serta kualitas sumber daya manusia.

Di tengah dinamika global yang terus berubah, inovasi dinilai sebagai elemen utama dalam meningkatkan daya saing suatu bangsa.

"Inovasi menjadi lokomotif baru pembangunan ekonomi. Karena itu, penguatan riset dan inovasi harus terus didorong agar mampu meningkatkan daya saing nasional," katanya.

Arif juga menyoroti posisi Indonesia dalam Global Innovation Index (GII) yang masih menghadapi tantangan.

Pada 2024, Indonesia berada di peringkat 54, kemudian turun ke posisi 55 pada 2025.

Kondisi ini menjadi sinyal perlunya percepatan penguatan ekosistem inovasi, baik dari aspek kebijakan, pendanaan, maupun kolaborasi lintas sektor.

Ia menilai terdapat hubungan yang kuat antara tingkat inovasi dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Negara dengan indeks inovasi tinggi umumnya memiliki produktivitas serta tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

"Negara dengan indeks inovasi tinggi biasanya juga memiliki pertumbuhan ekonomi yang kuat. Ini menunjukkan bahwa riset dan inovasi berperan besar dalam mendorong kemajuan ekonomi," ujarnya.

Sebagai lembaga yang berperan sebagai penggerak utama riset nasional, BRIN terus memperkuat seluruh tahapan inovasi, mulai dari riset dasar, pengembangan teknologi, validasi, hingga hilirisasi.

Arif menekankan bahwa riset fundamental tetap menjadi fondasi penting, meskipun tidak selalu memberikan dampak langsung dalam jangka pendek.

"Riset fundamental memang tidak selalu menghasilkan dampak langsung, tetapi menjadi dasar bagi pengembangan teknologi di masa depan," ucapnya, dikutip dari Antara.

Ia menambahkan bahwa BRIN juga berupaya meningkatkan produktivitas riset melalui publikasi ilmiah dan paten.

Meskipun jumlah paten Indonesia menunjukkan tren positif, capaian tersebut masih tertinggal dibandingkan negara seperti China, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.

Penguatan inovasi nasional diarahkan pada sektor-sektor strategis yang memiliki dampak luas, seperti pangan, energi, kesehatan, pertahanan, material maju, serta transformasi digital.

Fokus ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

Untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset, BRIN mengembangkan konsep Rumah Inovasi Indonesia sebagai pusat layanan terpadu.

Platform ini berfungsi menghubungkan peneliti, industri, pemerintah, dan investor guna mempercepat proses hilirisasi inovasi.

Di sisi lain, Arif menekankan pentingnya kesiapan sosial dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Tanpa kesiapan tersebut, kemajuan teknologi berpotensi menimbulkan kesenjangan atau cultural lag.

Oleh karena itu, BRIN juga mendorong penguatan riset sosial agar inovasi dapat diterima dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.

"Pengembangan teknologi harus diimbangi dengan kesiapan sosial. Jika tidak, akan muncul kesenjangan antara kemajuan teknologi dan kemampuan masyarakat dalam mengadopsinya," tutur Arif Satria.


 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close