Nusantaratv.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya memberikan manfaat bagi pemenuhan gizi anak, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi mikro di tingkat rumah tangga.
Hal ini dirasakan langsung oleh salah satu peternak ayam petelur rumahan, Eni Melani (31), warga Desa Borangan, Kecamatan Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah.
Eni telah menjalankan usaha ayam petelur selama kurang lebih tiga tahun. Awalnya, hasil produksinya hanya dipasarkan secara terbatas kepada tetangga dan warung sekitar.
Namun, sejak terlibat sebagai pemasok dalam program MBG, usahanya kini memiliki pasar yang lebih pasti.
"Telur-telur ini saya jual pertama di tetangga-tetangga. Terus saya supply ke warung-warung. Terus sekarang ada program MBG, saya menawarkan di dapur untuk dijadikan di program MBG. Telurnya saya supply ke sana," ujar Eni saat ditemui di rumahnya di Dusun Ngremang, Desa Borangan, Manisrenggo, Klaten, Rabu (22/4).
Dalam sehari, produksi telur yang dihasilkan mencapai sekitar 8-9 kilogram, dengan harga jual mengikuti pasar, berkisar Rp26.000-27.000 per kilogram.
Untuk memenuhi kebutuhan MBG, telur-telur tersebut dikumpulkan terlebih dahulu hingga mencapai 25-30 kilogram sebelum dikirim ke dapur MBG.
"Kan itu nggak setiap hari dikirim ke MBG. Kita kumpulin, nanti kalau ke MBG udah 25-30 kilo, saya baru anter," jelasnya.
Menurut Eni, kehadiran MBG memberikan kepastian pasar sekaligus mempercepat perputaran usaha, terutama untuk kebutuhan pembelian pakan.
"Kalau ada MBG itu saya nandu langsung ke MBG, uangnya muter buat beli pakan, gitu," ungkapnya.
Sebelum adanya program MBG, Eni harus aktif menawarkan dagangannya dari rumah ke rumah maupun ke warung.
Kondisi tersebut membuat penjualan tidak selalu stabil. Kini, dengan adanya MBG, proses distribusi menjadi lebih efisien dan terarah.
Namun demikian, dia juga mengungkapkan kekhawatiran apabila program tersebut tidak berjalan lama.
"Kalau di setop, ya saya bingung lagi. Harus kembali ke nol lagi. Saya harus jual ke tetangga. Saya nawarin lagi. Saya harus ke mana-mana, ke warung," tuturnya.
Lebih dari sekadar dampak ekonomi, Eni menilai program MBG juga memberikan manfaat besar bagi pemenuhan gizi anak-anak.
"Pak Prabowo terima kasih sudah mengasih program MBG ke anak-anak supaya anak-anak bisa sehat, makan. Kalau pagi-pagi kan langsung makan bersama. Kalau di rumah kadang makan, ada yang tidak, kan kasihan," ucapnya.
Dia berharap program MBG dapat terus berlanjut agar manfaatnya dirasakan secara luas, baik oleh anak-anak maupun pelaku usaha kecil seperti dirinya.
"Jadinya kalau bisa (MBG) diadakan terus, enggak usah disetop," tukas Eni.
Ke depan, Eni berencana meningkatkan kapasitas usahanya seiring meningkatnya kebutuhan dari program MBG.
Saat ini, ia memelihara sekitar 200 ekor ayam petelur dengan produksi 8-9 kilogram telur per hari (sekitar 16-17 butir per kilogram) dan baru mampu menyuplai satu dapur MBG di sekitar tempat tinggalnya.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh