Menhut Dorong Kolaborasi Lembaga Konservasi Satwa untuk Cegah "Inbreeding"

Menhut Dorong Kolaborasi Lembaga Konservasi Satwa untuk Cegah "Inbreeding"

Nusantaratv.com - 06 Januari 2026

Menhut Raja Juli Antoni (keempat kiri) dalam pertemuan dengan Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, serta Kepala Unit Pengelola Taman Margasatwa Ragunan dan tim di Jakarta pada Senin kemarin 5 Januari 2026. (Foto: ANTARA/HO-Kemenhut)
Menhut Raja Juli Antoni (keempat kiri) dalam pertemuan dengan Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, serta Kepala Unit Pengelola Taman Margasatwa Ragunan dan tim di Jakarta pada Senin kemarin 5 Januari 2026. (Foto: ANTARA/HO-Kemenhut)

Penulis: Adiantoro

Nusantaratv.com - Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, mendorong penguatan mekanisme pertukaran satwa antar-lembaga konservasi sebagai langkah untuk mencegah perkawinan sedarah (inbreeding) sekaligus meningkatkan keberlanjutan populasi satwa.

"Satwa di lembaga konservasi adalah barang milik negara yang harus dikelola bersama untuk kepentingan keberlanjutan dan peningkatan populasi," ujar Menhut Raja Juli dalam pernyataan di Jakarta, Selasa (6/1/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan usai Menhut bertemu dengan Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, Kepala Unit Pengelola Taman Margasatwa Ragunan, dan tim di Jakarta pada Senin, 5 Januari 2026.

Raja Juli menekankan pentingnya pembangunan database atau pusat data nasional satwa yang terintegrasi di seluruh lembaga konservasi.

Database ini akan memuat jumlah individu dan kebutuhan masing-masing lembaga sehingga pertukaran satwa dapat dilakukan secara terencana melalui mekanisme antar-lembaga.

Langkah ini bertujuan menekan risiko perkawinan sedarah dan penurunan keanekaragaman genetik.

"Dengan data yang terintegrasi, kita bisa tahu lembaga mana yang surplus dan mana yang membutuhkan fresh blood," jelas Menhut.

Menhut menambahkan, pengaturan jumlah individu di setiap lembaga konservasi harus dilakukan secara cermat dengan tetap mengutamakan kesejahteraan satwa.

Setiap pertukaran maupun pelepasliaran satwa harus melalui kajian ilmiah, termasuk analisis DNA dan penilaian kelayakan sebelum dilepas.

Dia berharap penguatan kolaborasi antar-lembaga konservasi akan memperkuat peran konservasi ex situ sekaligus selaras dengan upaya pelestarian in situ.

"Animal welfare tetap menjadi prioritas. Setiap rilis atau pertukaran harus berbasis kajian ilmiah dan genetik yang ketat," tukas Raja Juli.

(Sumber : Antara)

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close