Nusantaratv.com - Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan batas defisit anggaran maksimal sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut Prabowo, aturan tersebut tidak akan diubah kecuali jika negara menghadapi situasi darurat besar, seperti yang pernah terjadi saat pandemi COVID-19.
Dalam wawancara eksklusif dengan Bloomberg yang diterbitkan dengan judul "Prabowo Open to Breach Indonesia Deficit Cap Only During Crisis", dia menyebut batas defisit sebagai instrumen penting untuk menjaga kedisiplinan dalam pengelolaan keuangan negara.
"Batas defisit itu adalah alat yang baik untuk mendisiplinkan diri kita. Kami tidak punya rencana untuk mengubahnya kecuali ada keadaan darurat yang sangat besar seperti COVID-19," kata Prabowo.
"Saya berharap kita tidak perlu mengubahnya," tambahnya.
Indonesia telah menerapkan aturan batas maksimal defisit anggaran sebesar 3 persen dari PDB sejak awal tahun 2000-an, setelah krisis keuangan Asia melanda kawasan.
Ketentuan tersebut hingga kini menjadi salah satu indikator penting yang diperhatikan investor dalam menilai stabilitas fiskal Indonesia.
Prabowo menilai Indonesia memiliki keuntungan dibandingkan sejumlah negara lain karena didukung oleh kekayaan sumber daya alam.
Komoditas seperti minyak sawit dan batu bara dinilai masih relatif murah dan mampu mendukung ketahanan nasional.
Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong pengembangan berbagai sumber energi alternatif, antara lain panas bumi, tenaga surya, tenaga air, serta biofuel.
"Kalau kita bisa melewati ini, dalam dua tahun kita akan menjadi sangat efisien,” ujar Prabowo. “Kita akan sangat, sangat tidak bergantung pada sumber dari luar," imbuhnya.

Presiden Prabowo Subianto pimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat, 13 Maret 2026. (Foto: NTVnews)
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga kembali menekankan pentingnya disiplin fiskal meskipun sejumlah negara telah melonggarkan target defisit anggaran mereka.
Kepala Negara menyebut Indonesia pada awalnya mengadopsi prinsip serupa dengan aturan yang pernah diterapkan oleh Uni Eropa yang membatasi defisit fiskal maksimal 3 persen dari PDB.
Namun, menurutnya, banyak negara di kawasan tersebut kini tidak lagi mematuhi batas tersebut.
Prabowo juga menolak pandangan sebagian pemikir ekonomi yang mendorong pertumbuhan dengan meningkatkan utang dalam jumlah besar.
Dia mengatakan prinsip kehati-hatian dalam mengelola keuangan sudah diajarkan sejak kecil oleh orang tuanya.
"Jangan membelanjakan lebih dari yang kita hasilkan. Itu adalah prinsip dasar kehidupan untuk bisa bertahan," tukas Prabowo.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh