Nusantaratv.com-Nusantara TV kembali menghadirkan program inovatif mega talkshow Suara Nusantara. Edisi perdana program Suara Nusantara siap mengudara pada Rabu 12 Agustus 2026. Disiarkan langsung dari Nusantara Hall lantai 9 NT Tower Pulomas Jakarta.
Suara Nusantara hadir sebagai wadah suara masyarakat dalam forum dialog nasional yang mempertemukan masyarakat, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan tokoh publik membahas isu hangat dari berbagai sudut pandang berbasis fakta, lalu ditutup dengan solusi yang dapat dipahami masyarakat.
Program diskusi ini akan dipandu jurnalis dan presenter ternama Anisha Dasuki. Dalam perjalanan kariernya Anisha dipercaya menjadi moderator Debat Capres putaran kedua yang mempertemukan Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Prestasi ini terulang kembali pada Pilpres 2024, di mana ia kembali didapuk menjadi moderator debat ketiga yang melibatkan tiga calon presiden: Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo.
Program Suara Nusantara yang mengusung tagline "Suara Kita, Suara Nusantara. Setiap Suara Membawa Harapan" merupakan wujud nyata komitmen Nusantara TV untuk turut serta bersama seluruh pemangku kepentingan dalam memerangi Disinformasi, Fitnah dan Kebencian (DFK) yang kini mendominasi ruang digital dan mempengaruhi publik.
Fenomena ini juga tercermin dalam Reuters Institute Digital News Report 2026. Laporan tersebut menunjukkan bahwa 54% masyarakat dunia mengakses berita melalui media sosial dan platform video, menjadikannya sumber berita daring yang paling banyak digunakan. Namun, hanya 22% responden yang menyatakan mempercayai berita yang mereka temukan di media sosial.
Masalahnya terletak pada cara media sosial bekerja. Algoritma platform digital cenderung menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna. Akibatnya, seseorang sering kali lebih banyak bertemu dengan pendapat yang serupa daripada sudut pandang yang beragam.
Dalam kondisi seperti ini, ruang diskusi sering berubah menjadi ruang pertentangan. Yang lebih banyak terlihat adalah:
* Perdebatan tanpa dialog
* Opini tanpa verifikasi
* Komentar tanpa empati
Baca juga: Nusantara TV Gelar Kartini Leaders Fest 2026, Hadirkan Tokoh Inspiratif hingga Hiburan Seru
Sejarawan, Akademisi, Tokoh Intelektual dan Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, almarhum Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, pernah mengingatkan bahwa media sosial dapat menjadi ruang yang dipenuhi kebencian, kebohongan, dan fitnah apabila tidak digunakan secara bijaksana.
Jika kondisi ini terus berlangsung, yang dirugikan bukan hanya media atau pemerintah, melainkan seluruh masyarakat. Ketika kebohongan lebih dipercaya daripada fakta, ruang dialog yang sehat akan semakin menyempit.
Ancaman Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian
Di balik derasnya arus informasi digital, ancaman Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian (DFK) masih menjadi persoalan serius. Karena dampaknya tidak berhenti di dunia maya.
Informasi palsu dapat memengaruhi keputusan masyarakat. Fitnah dapat menghancurkan reputasi seseorang yang dibangun selama bertahun-tahun. Ujaran kebencian dapat memicu konflik sosial, memperbesar polarisasi, bahkan memengaruhi kehidupan nyata.
Tidak jarang penyebaran informasi yang tidak benar juga berujung pada cyberbullying. Korban mengalami tekanan psikologis, kecemasan, depresi, hingga kehilangan rasa aman. Berbagai lembaga internasional seperti WHO, UNESCO, dan UNICEF telah menyoroti dampak buruk kekerasan digital terhadap kesehatan mental, terutama pada remaja dan kelompok rentan.
Karena di balik setiap akun media sosial terdapat manusia yang memiliki perasaan. Satu unggahan yang tidak benar dapat meninggalkan luka yang nyata.
Jangan terlewatkan! Saksikan edisi perdana mega talkshow Suara Nusantara di Nusantara TV, Rabu 12 Agustus 2026.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh