Nusantaratv.com - Salah satu alasan terbesar orang masih ragu beralih ke mobil listrik adalah waktu pengisian daya yang dianggap terlalu lama.
Saat mobil berbahan bakar bensin bisa terisi penuh hanya dalam beberapa menit, pengguna kendaraan listrik (EV) harus menunggu jauh lebih lama di stasiun pengisian daya.
Namun, terobosan terbaru dari China berpotensi mengubah segalanya. Demikian dikutip dari ArenaEV, Jumat (22/5/2026).
Para peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences) berhasil mengembangkan baterai lithium-metal solid-state terbaru yang mampu diisi penuh hanya dalam waktu sekitar tiga menit.
Teknologi ini digadang-gadang menjadi solusi besar yang dapat membuat pengalaman mengisi daya mobil listrik semudah mengisi bensin.
Tak hanya unggul dalam kecepatan, baterai generasi baru ini juga menawarkan kapasitas energi jauh lebih besar dibanding baterai kendaraan listrik saat ini.
Tim peneliti mencatat kepadatan energi mencapai 451,5 Wh/kg, lebih dari dua kali lipat baterai lithium iron phosphate (LFP) yang umum digunakan di pasar saat ini dengan rata-rata sekitar 200 Wh/kg.
Artinya, mobil listrik masa depan berpotensi memiliki jarak tempuh lebih jauh tanpa harus menambah ukuran atau bobot baterai secara signifikan.
Di balik pencapaian tersebut, para ilmuwan memodifikasi material elektrolit berbahan polivinilidena fluorida (PVDF) agar lebih stabil saat bekerja pada tegangan tinggi.
Mereka menggunakan pelarut khusus dalam proses produksi untuk menjaga struktur material tetap aman dan tidak mudah rusak saat baterai bekerja dalam performa ekstrem.
Hasilnya cukup mengesankan. Dalam pengujian pengisian cepat secara intensif, baterai ini mampu bertahan hingga 700 siklus pengisian sambil mempertahankan 81,9 persen kapasitas aslinya.
Keunggulan lain yang tak kalah penting adalah faktor keamanan. Berbeda dengan baterai lithium-ion konvensional yang berisiko terbakar saat mengalami kerusakan, baterai solid-state ini tetap stabil bahkan setelah diuji dengan metode penetrasi paku logam.
Meski ditusuk hingga menembus bagian tengah sel baterai, tidak terjadi ledakan maupun kebakaran.
Perkembangan teknologi ini juga didukung oleh industri baterai global yang mulai bergerak menuju produksi massal.
Perusahaan baterai asal China, Ganfeng Lithium, mengklaim sel solid-state 400 Wh/kg miliknya telah lolos validasi teknik setelah melewati lebih dari 1.100 siklus pengujian.
Sementara itu, perusahaan rintisan Pure Lithium juga mulai menyiapkan kapasitas produksi hingga 500 MWh untuk baterai solid-state tahan api miliknya.
Saat ini pasar kendaraan listrik masih didominasi baterai LFP karena biaya produksinya lebih murah.
Perusahaan besar seperti CATL dan BYD masih memimpin pasar baterai EV global dengan kapasitas produksi raksasa.
Meski begitu, sejumlah produsen baterai dunia menargetkan komersialisasi teknologi solid-state mulai 2026 hingga 2027.
Jika target tersebut tercapai, mobil listrik berpotensi memasuki era baru: pengisian super cepat, jarak tempuh lebih jauh, dan tingkat keamanan yang jauh lebih tinggi.
Bukan tidak mungkin, dalam beberapa tahun ke depan mobil listrik benar-benar menjadi pilihan paling praktis untuk kendaraan masa depan.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh