Nusantaratv.com - Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 mengungkap pengalaman traumatis setelah dicegat dan ditahan militer Israel saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina.
Para relawan sebelumnya berlayar dalam misi solidaritas kemanusiaan bagi warga Gaza. Namun, misi tersebut dihentikan setelah militer Israel mengintersep kapal mereka di kawasan Mediterania Timur dan membawa para relawan secara paksa ke wilayah Israel.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyambut langsung kepulangan para relawan WNI dan memastikan pemerintah memberikan pendampingan kepada mereka.
Sugiono menyampaikan rasa syukur karena seluruh WNI dapat kembali ke Tanah Air dalam keadaan selamat, meskipun sebagian mengalami trauma dan cedera fisik akibat tindakan kekerasan aparat militer Israel.
"Selamat datang kembali, selamat berkumpul dengan keluarga. Dan tadi dari laporan, ada beberapa rekan kita yang mengalami trauma fisik yang akan juga ditangani lebih lanjut," kata Sugiono saat menjemput para relawan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026).
Pemerintah Indonesia, lanjut Sugiono, akan terus memastikan perlindungan bagi warga negara Indonesia yang terlibat dalam misi kemanusiaan internasional, khususnya yang berkaitan dengan situasi kemanusiaan di Gaza.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyambut kedatangan sembilan warga negara Indonesia (WNI) relawan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang sebelumnya mengalami penangkapan dan penahanan oleh otoritas Israel. (Foto: Dok/Istimewa/Bakom RI)
Baca Juga: 9 WNI yang Ditahan Israel Tiba di Tanah Air, Menlu: Terima Kasih kepada Turki hingga Yordania
Diperlakukan Keji
Wartawan Republika yang tergabung dalam relawan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Bambang Noroyono alias Abeng, mengaku bersyukur dapat kembali ke Indonesia dan berkumpul bersama keluarga.
"Syukur Alhamdulillah bisa ketemu keluarga, karena ini tetap lanjut perjuangan bersama tentang memperjuangkan hak-hak masyarakat Palestina, hak-hak warga Gaza," ujar Abeng.
Dia mengungkap masih merasakan dampak fisik akibat tindakan kekerasan yang dialaminya saat penahanan. Menurut Abeng, beberapa relawan lainnya bahkan mengalami cedera serius.
"Kondisi saya sudah enggak terlalu khawatir lagi. Masih ada bekas benturan yang masih kerasa, tapi lambat laun akan menghilang. Luka juga masih ada. Ada beberapa teman yang harus diperhatikan, mengalami retak di bagian dalam tulang," lanjutnya.
Thoudy Badai, relawan dari Republika sekaligus GPCI, menyebut tindakan militer Israel sebagai penculikan yang dilakukan di luar prosedur hukum internasional.
"Penculikannya tentu di luar prosedur di perairan internasional, dan kita dibawa masuk ke perairan Israel lalu dibawa ke kapal besar milik Israel selama tiga hari dua malam," kata Thoudy.
Menurutnya, para relawan mendapat perlakuan tidak manusiawi selama masa penahanan.
"Dan tentunya diperlakukan keji. Itu sangat mungkin dialami masyarakat Palestina dengan kondisi yang jauh lebih keji. Jadi, tetap suarakan Free Palestine," tukasnya.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh